Amanah Pemula
Posted in catatan
“Rintangan tidak selamanya
menjadi beban kok,” ungkap ketua senat pada saya ketika saya menceritakan bahwa
saya merasa kurang mampu untuk dapat memimpin kelompok dari Kader Syariah hasil
penyaringan dari acara PAKASI yang lalu.
Saya ceritakan bahwasanya saya
tidak pernah punya pengalaman untuk menjadi seorang ketua apalagi untuk
mengkoordinatori rekan-rekan Kader Syariah yang sudah tersaring dengan baik itu
dan secara logika saya bahwa semua hasil saringan pastilah yang berkualitas. Sambil
memegang pundak saya dia berkata “dulu ketika saya masih baru sepertimu sayapun
tidak punya cita-cita untuk bisa menjadi ketua senat yang menaungi hampir 700
orang, senat syariah adalah senat terbesar di MASISIR ini, namun saya hanya
memiliki semangat yang besar seperti kamu saat ini, dan ingat ini amanah
bukanlah jabatan.” Saya mohon pamit kepadanya untuk beristirahat pulang ke
rumah yang selama dua hari ini saya tinggalkan untuk menyelesaikan tugas-tugas
di sekretariat senat.
Rumah saya dan senat sebenarnya
tidaklah terlalu jauh biasa saya tempuh cukup dengan waktu 5 menit, namun sore
ini terasa amat sangat melelahkan perjalanan ini, saya mencoba menjari ujung
dari perjalanan ini, bukanlah jarak yang saat ini menghalangi saya, namun
pikiran inilah yang berjalan lebih jauh dari raga yang di tempatinya, pikiran
saya mengawang-awang dan tak jua menemukan ujungnya.
Saya masih bimbang sebenarnya
apalagi dengan kalimat terakhir yang disampaikan ketua senat tadi kepada saya “ini
semua amanah bukan jabatan,” begitu mengganggu pikiran saya, karena saya tahu
betul bahwa amanah itu tidak bisa kita tolak dan kita langgar, seperti Allah
telah mengamanahkan bumi ini kepada manusia meskipun kita sebagai manusia tidak
pernah memilih untuk menerima amanah ini, namun apa saya mampu untuk mengemban
amanah ini “pertanyaan besar di pikiranku.”
Saat pintu kamar terbuka hanya
satu tujuan utama saya, yaitu kasur dingin yang telah saya tinggalkan dua hari
yang lalu, pelukan hangat langsung saya berikan dengan penuh luapan emosi,
berharap semua yang mengganjal di pikiran ini bisa segera enyah. Sampai akhrinya
mimpi menjemput saya di peraduan.
Keringat mengalir deras dari dahi
leher dan sekejur tubuh saya, memang penghujung di penghujung bulan juni suhu
udara kota Cairo sedikit meningkat dari biasanya hingga menembus angka 45
derajat celsius, angka ini saya peroleh dari alat pengukur suhu udara yang
berada bisanya berdampingan dengan tempat imam sholat. Tapi bukan ini kawan
penyebab keringat yang mengalir deras di dahi saya hingga kaos yang saya pakai
saat tidurpun lembab terkena air yang mengalir dari dalam tubuh, ini semua
karena mimpi, tepatnya adalah pikiran yang terbawa mimpi.
Saya seakan-akan di kejar sesuatu
yang besar, sangaaat besar. Semakin saya berlari, semakin kuat pula dia
mengejar hingga akhirnya sayapun tidak lagi dapat menghindar dari sesuatu yang
besar itu, hingga saya terbangun dari tidur dengan nafas yang
tersenggal-senggal.
Hanya diam yang bisa saya lakukan
dan merenung maksud dari mimpi tersebut. Dalam banyangan saya hanya satu yaitu
amanah, apakah amanah ini yang dimaksud dengan sesuatu yang teramat besar yang
mengejar-ngejar saya dalam mimpi barusan itu ?, jikalau benar, memang sampai
kapan saya akan menghindar dari amanah menjadi pemimpin, karena memang saya
sadari bahwa suatu saat nanti sayapun akan menjadi pemimpin minimal pemimpin
bagi keluarga.
“Kullukum raain wa kullukum
mas’ulun an roiyatihi” terjemah bebasnya mungkin seperti ini, bahwasanya
setiap kamu adalah seorang pengembala, dan setiap pengembala bertanggung jawab
atas apa yang di gembalakannya.
Malam ini akhirnya saya lewati
dengan lapang dada tanpa beban pikiran karena semenit yang lalu saya telah
menghubungi ketua senat dan mengatakan kesanggupan saya untuk menjadi
koordinator dari Kader Syariah nantinya. Semua telah bermula.



0 komentar: